Rabu, 03 September 2014

Untuk-Mu, Ayah yang terhebat.




Walau ke ujung Dunia, Kau akan tetap menjadi Ayah yang terhebat Untuk-ku. Untukku kau bekerja keras, membanting tulang demi masa depanku kelak.

Kelak kau akan tahu, betapa aku menyayangi-Mu. Kau adalah anugrah yang terindah untukku. Untukku kau lebih dari seorang Ayah, engkau bagaikan pahlawan yang selalu menjagaku dari kejahatan Semesta.

Semesta ini boleh menyalahkan bahwa kau bukan Ayah yang baik.Tapi, untukku kau Ayah yang terhebat melebihi segala apapun. 

Terhebat, ya mungkin aku anakmu ini terlalu melebih-lebihkan mu. Tapi Ayah....Itu kenyatannya.
Kenyataan yang memang harus kau jalani untuk selalu berada di sisi kami anak-anakmu. Ayah, Jika kau tahu, Aku sangat merindukan sosokmu yang telah hilang.

Hilang seperti rintik hujan yang jatuh ke Bumi dan Terserap oleh tanah. Tanah liat.... Ya, kau bagaikan tanah liat yang telah dibentuk. kau memang keras, namun kau juga lembut. Lembut selembut Es krim yang dahulu pernah kau berikan untukku. Seperti itulah kasihmu Ayah, bahkan lebih dari itu. Kasih Itu lah yang membuatku selalu ingin bersama mu. Bahkan sampai akhir hayatku.

Aku terlahir ke Dunia ini memang untuk menyayangimu, untuk menjagamu saat kau kelak akan menua.Aku tidak butuh apa-apa, yang aku butuhkan hanya Ayah...

Seperti sebuah petikan yang pernah aku dengar "Ayah, yang aku tahu tentang diriku,aku hanya ingin bersama mu, itu saja cukup" 

Apa kau tahu Ayah? Mungkin, bila tanpamu hidupku terasa seperti tidak berwarna.Hampa, seakan aku tidak memiliki apa-apa.

Cukup banyak nasihat yang pernahkau lontarkan, namun hanya satu yang selalu memotivasiku. Kau selalu katakan " kamu harus bisa menjadi anak yang terbaik, nak."

Terbaik daripada yang terbaik. Ya, itu semua hanya untuk kebaikanku kelak. itu yang kau inginkan kan Ayah? Aku anakmu, berjanji untuk menjadi apa yang kau pinta, Ayah.



Berawal dari kejenuhan kami ketika di kelas. Bertukar flash fiction sederhana, bersama Astria Yolanda. :) 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar