Sabtu, 16 Agustus 2014

Rintik Hujan




Di suatu senja di musim yang lalu, ketika itu hujan rintik...
Beberapa tampak biasa saja. Sebagian menyebalkan. Sisanya memandangi rintik hujan yang turun seharian.

Tak ada pelangi usai hujan ini, bahkan langit masih berawan, hanya tiupan angin pelan pelan menyeka rintik mataku.

Mungkin akan ada kesejukan yang tercipta,atau lirih sang kodok bernyanyi Sore ini,dari rintik yang masih tersisa seusai hujan yang mulai mereda.

Denting piano kala jemari menari, nada merambat pelan di kesunyian Saat datang rintik hujan Bersama sebuah bayang yang pernah terlupakan.

Hujan mencipta rindu lewat sketsa yang terbias dari rintik-rintiknya. Aku duduk disini menjadi pelaku sekaligus penonton setia.

Rintik hujan jatuh berkepanjangan, menjadi latar bagi yang tengah tersungkur dalam kehilangan.

Rintik hujan, mengajarkan bumi tentang ketabahan, kesedihan, senantiasa disambut dengan keikhlasan

Tak ada yang lebih tabah sore ini, selain rintik hujan yang tak pernah mengeluh untuk apa ia dijatuhkan.

Dan rintik hujan telah melubangi tanah di sepanjang jalan itu, tinggalkan tusukan ngilu, pada hati yang kuyup rindu.

Ada yang tidak tergambarkan oleh sapuan rintik hujan. Kepahitan. Serta rumput-rumput liar yang lupa bermekaran..

Mungkin akan ada sajak sendu tercipta,atau puisi-puisi keharuan mengemuka,dari luka-luka yg tersisa. seusai hujan yang mulai mereda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar